{"id":140215,"date":"2024-10-10T12:27:15","date_gmt":"2024-10-10T12:27:15","guid":{"rendered":"https:\/\/cryptonews.com\/id\/?post_type=academy&p=140215\/"},"modified":"2025-10-08T12:06:02","modified_gmt":"2025-10-08T12:06:02","slug":"blockchain-technology","status":"publish","type":"academy","link":"https:\/\/cryptonews.com\/id\/academy\/blockchain-technology\/","title":{"rendered":"Apa Itu Teknologi Blockchain dan Bagaimana Cara Kerjanya?"},"content":{"rendered":"
Teknologi blockchain pertama kali mendapat perhatian publik pada tahun 2009 dengan diluncurkannya jaringan Bitcoin. Namun, blockchain sebenarnya sudah ada sebelum Bitcoin, dan penerapannya jauh lebih luas dari sekedar sebagai alat transaksi peer-to-peer seperti Bitcoin. Sistem blockchain dapat mendukung berbagai jenis aplikasi, seperti menyimpan data secara digital hingga pencatatan transaksi saham.<\/p>
Kita akan membahas tentang apa itu teknologi blockchain, tujuan dari teknologi block chain, hingga beberapa contoh penggunaannya. Untuk memahami semuanya, pastikan Anda membaca artikel ini sampai habis.<\/p>
<\/span> Secara sederhana untuk memahami pengertian teknologi blockchain, Anda bisa membayangkan blockchain sebagai sebuah garis waktu digital, yang berisi catatan tentang apa saja yang terjadi dan kapan terjadinya.Mari kita uraikan secara sederhana, dengan menjelaskan setiap aspek secara singkat.<\/p>\n Blockchain pada dasarnya adalah sistem pencatatan transaksi (atau data lainnya) yang mirip dengan basis data. Perbedaannya, transaksi ini disimpan dalam blok-blok yang berurutan, seperti wadah yang terhubung satu sama lain.<\/p>\n Setiap blok berisi kumpulan data, dan blok-blok ini kemudian dirangkai bersama dalam urutan kronologis, membentuk rantai yang saling terhubung, atau yang kita kenal sebagai blockchain.<\/p>\n Tidak seperti database biasa, data dalam jaringan blockchain sangat sulit diubah. Jika di database, Anda bisa menghapus atau mengedit data dengan mudah, di blockchain, setiap data didistribusikan dan diamankan.<\/p>\n<\/div><\/div> <\/span> Setelah itu, kita akan membahas pilar-pilar utama yang mendukung banyak blockchain terkenal saat ini.Sebagai contoh, mari kita lihat bagaimana transaksi Bitcoin bekerja dan menjadi bagian dari penyimpan digital yang tidak bisa diubah.<\/p> Transaksi antara Jimmy dan Aldi mencakup empat pilar utama sistem blockchain: desentralisasi, tidak dapat diubah, transparansi, dan aman.Selanjutnya, mari kita bahas masing-masing pilar ini secara lebih rinci tentang teknologi blockchain.<\/p> Desentralisasi berarti tidak ada satu pihak yang mengendalikannya. Sebagai gantinya, blockchain disalin ke ribuan node yang tersebar di seluruh dunia. Konsensus, kesepakatan tentang status blockchain, juga dilakukan secara desentralisasi. Ini berarti tidak ada satu pihak yang menentukan, melainkan semua node di jaringan berperan dalam mencapai kesepakatan.<\/p> Singkatnya, tidak ada otoritas pusat yang mengatur keabsahan transaksi.<\/p> Sebaliknya, teknologi blockchain menggunakan seperangkat aturan, atau protokol, untuk mencapai kesepakatan tentang status blockchain dan menambahkan transaksi baru ke dalam blok.<\/p> Metode ini berbeda dari sistem keuangan tradisional, di mana bank atau pemroses pembayaran sering kali menjadi penengah transaksi.<\/p> Seperti contoh kasus pada Jimmy dan Aldi, dalam blockchain, jaringan hanya memeriksa apakah Jimmy memiliki bitcoin yang cukup untuk dikirim ke Aldi. Identitas dan tujuan pembayaran tidak perlu diketahui.<\/p> Namun, tidak semua blockchain bersifat desentralisasi. Misalnya, blockchain pribadi mungkin memiliki metode konsensus yang terpusat atau aspek lainnya yang terpusat.<\/p> Beberapa blockchain bisa dimulai dengan karakteristik terpusat dan kemudian beralih ke desentralisasi. Contohnya, jaringan Cardano berencana mendesentralisasikan pengembangan melalui pemungutan suara dengan rencana Voltaire fork.<\/p> Dalam konteks sistem teknologi blockchain, immutability<\/i> atau tidak dapat diubah berarti tidak bisa mengubah transaksi yang sudah tercatat di blockchain.<\/p> Di dunia keuangan atau penyimpanan data tradisional, seorang peretas atau orang dengan akses administrator bisa mengubah data. Contohnya, serial TV Mr. Robot menceritakan tentang kelompok peretas yang mencoba menghapus utang konsumen global dengan menyerang database keuangan.<\/p> Sebaliknya, konsep blockchain dirancang untuk bersifat permanen, selama node jaringan masih ada. Aspek lain dari keamanan blockchain adalah finalitas, yaitu saat transaksi tidak bisa dibatalkan. Di jaringan Bitcoin dan web 3.0 coin<\/a>, transaksi dianggap final setelah enam konfirmasi blok, atau sekitar satu jam.<\/p> Biaya komputasi untuk mengubah transaksi setelah titik ini sangat tinggi, sehingga hampir mustahil dilakukan. Secara praktis, transaksi kecil dianggap final setelah dimasukkan ke dalam blok. Immutability<\/i> ini menawarkan berbagai manfaat blockchain, termasuk keuntungan bagi beberapa kasus penggunaan bisnis.<\/p> Blockchain publik menggunakan penyimpan digital terbuka yang dapat dilihat oleh siapa saja. Karena blockchain disalin di banyak node di seluruh dunia, data tetap dapat diakses oleh semua orang. Data transaksi lengkap untuk seluruh blockchain Bitcoin, dimulai dari Blok Genesis, yang merupakan blok Bitcoin pertama.<\/p> Begitu juga dengan blok pertama Ethereum dapat dilihat oleh siapa saja. Sebagian besar blockchain mata uang kripto populer menggunakan penyimpan digital yang bersifat terbuka. Namun, tidak semua blockchain transparan. Blockchain pribadi biasanya tidak membuat data transaksi tersedia untuk umum.<\/p> Teknologi blockchain menggunakan kriptografi untuk mengamankan jaringan, mencatat transaksi, dan melindungi identitas. Dilansir dari Telkom University<\/a> kriptografi adalah ilmu yang mempelajari teknik untuk mengamankan informasi, seperti melindungi kerahasiaan data, menjaga integritas data, dan memastikan keabsahan data.<\/p> Mata uang kripto yang menjanjikan<\/a> berhasil menarik perhatian publik karena menggunakan kriptografi dalam jaringannya. Sistem blockchain memanfaatkan hash kriptografi, yaitu nilai alfanumerik yang dihasilkan dari data asli melalui algoritma enkripsi.<\/p> Sebagai contoh, Bitcoin menggunakan enkripsi double SHA-256 untuk menghasilkan hash<\/i> dari input data. Kriptografi adalah inti dari penambangan Bitcoin, dan hash<\/i> kriptografi juga digunakan untuk alamat dompet dan menghubungkan blok-blok. Input yang sama selalu menghasilkan output yang sama dengan algoritma enkripsi yang sama. Jika satu karakter input berubah, hash yang dihasilkan juga akan berubah.<\/p> Hash kriptografi dari satu blok dimasukkan ke dalam blok berikutnya, membentuk rantai yang tidak dapat diubah. Dengan demikian, kriptografi melindungi transaksi dan data di blockchain crypto dari perubahan.<\/p> <\/span> Secara umum, jaringan ini terbagi menjadi tiga jenis jaringan utama, antara lain: jaringan blockchain publik, jaringan blockchain pribadi, dan blockchain konsorsium.<\/p> Contoh transaksi Bitcoin sebelumnya menunjukkan karakteristik utama dari jaringan blockchain publik.<\/p> Sebagai contoh dari sistem block chain publik, kita bisa melihat beberapa mata uang kripto dan daftar altcoin<\/a> yang terkenal seperti:<\/p> Sesuai dengan namanya, jaringan blockchain pribadi tidak dirancang untuk diakses oleh publik. Bisnis dan organisasi dapat menggunakan blockchain pribadi untuk mengelola data yang khusus memenuhi kebutuhan mereka.<\/p> Berikut beberapa keunggulan yang dimiliki oleh jaringan blockchain pribadi antara lain sebagai berikut:<\/p> Contoh jaringan blockchain pribadi dengan akses berizin adalah Blockchain Quorum, yang menurut informasi yang kami dapatkan dari blockchainmedia.id, baru-baru ini diakuisisi oleh Consensys. Quorum merupakan hasil pengembangan dari blockchain Ethereum dan mendukung smart contract<\/i>, dengan waktu blok yang lebih cepat dibandingkan Ethereum.<\/p> Jenis lain dari teknologi blockchain adalah hybrid blockchain<\/i>, yang menggabungkan data publik dan privat. Data publik dapat diakses oleh siapa saja, sedangkan data privat hanya bisa dilihat oleh entitas yang memiliki izin. Quorum menawarkan transaksi terbuka dan privat.<\/p> Konsorsium blockchain adalah jenis jaringan blockchain yang dikelola bersama oleh beberapa entitas, seperti perusahaan dalam industri yang sama atau unit bisnis dari perusahaan yang sama. Konsorsium ini bekerja sama untuk mengelola sistem teknologi blockchain demi mencapai tujuan bersama. Berikut ini beberapa fungsi dari konsorsium blockchain:<\/p> Corda adalah contoh solusi konsorsium blockchain populer yang menghubungkan bisnis serupa seperti perbankan, layanan keuangan, dan asuransi, serta unit bisnis dalam perusahaan. Misalnya, Chubb menggunakan (ledger<\/i>) terdistribusi berbasis Corda untuk mengotomatisasi alur kerja.<\/p> <\/span> Lalu, Blockchain itu apa? Dilansir dari Gramedia<\/a> teknologi blockchain artinya teknologi yang menyimpan data dalam bentuk blok-blok yang terhubung secara aman melalui kriptografi. Setiap blok berisi catatan transaksi yang tidak dapat diubah, menciptakan sistem yang transparan dan terdesentralisasi.<\/p> Teknologi ini banyak digunakan dalam berbagai aplikasi game penghasil crypto<\/a>, dan juga mata uang kripto, untuk memastikan data tetap aman, dapat dilacak, dan sulit dimanipulasi. Tujuannya adalah membentuk jaringan di mana setiap blok terhubung dengan blok lainnya, membentuk sebuah rantai.<\/p> Protokol adalah kumpulan aturan yang mengatur cara kerja jaringan blockchain, berfungsi sebagai lapisan dasar dari sistem tersebut.Selanjutnya, kita akan membahas tentang platform, yang memungkinkan pengembangan lapisan sekunder dan ekosistem aplikasi.<\/p> Keduanya saling melengkapi, dan beberapa proyek blockchain memiliki elemen yang tumpang tindih. Secara teknis, protokol mendefinisikan bagaimana manfaat blockchain dan fungsinya. Berikut adalah beberapa elemen dari protokol blockchain crypto:<\/p> Teknologi Blockchain terdesentralisasi memerlukan cara untuk mengatur dan memutuskan perubahan. Siapa yang menentukan kapan kode blockchain harus diubah? Banyak proyek yang memberi hak suara kepada pemegang token untuk membuat perbaikan.<\/p>\n<\/div>\n Bitcoin menggunakan blockchain crypto proof of work<\/i> untuk membuat kesepakatan antara node tentang status blockchain. Ethereum awalnya menggunakan proof of work<\/i> tetapi kini beralih ke proof of stake<\/i> (PoS). Beberapa proyek lain menggunakan metode konsensus yang berbeda.<\/p>\n<\/div>\n Fungsi hash dalam algoritma memiliki aturan tertentu. Setiap proyek bisa memilih algoritma yang berbeda. Bitcoin menggunakan SHA-256 dan sering menjalankan hash hasilnya dua kali (double SHA-256). Sementara itu, Ethereum menggunakan Keccak-256.<\/p>\n<\/div>\n Bitcoin membatasi ukuran blok berdasarkan kapasitas memori, sementara Ethereum menetapkan ukuran target berdasarkan biaya transaksi.<\/p>\n<\/div>\n Aturan mengenai bagaimana crypto baru dibuat dan bagaimana total pasokan dikelola oleh protokol juga penting untuk dipahami.<\/p>\n<\/div><\/div><\/div> Berikut ini beberapa jaringan blockchain yang juga merupakan protokol di balik layar, antara lain:<\/p> Proyek teknologi blockchain juga memiliki tujuan sederhana, seperti Bitcoin, yang dirancang sebagai sistem uang elektronik peer-to-peer<\/i>. Namun, ada juga proyek blockchain yang berfungsi sebagai platform untuk pengembangan pihak ketiga.<\/p> Protokol Ethereum memimpin dengan dukungan smart contract<\/i>, yaitu program kondisional yang berjalan di jaringan blockchain. Blockchain berikutnya mengembangkan kemampuan ini lebih jauh, dengan merancang blockchain crypto yang dapat menjalankan blockchain tambahan yang lebih khusus, masing-masing juga mampu menjalankan smart contract<\/i>. Contohnya:<\/p> Proyek lainnya yang menargetkan aplikasi komersial, menawarkan cara untuk mengimplementasikan konsep blockchain yang disesuaikan untuk kebutuhan industri tertentu. Misalnya:<\/p> <\/span> Ethereum diluncurkan dengan mendukung smart contract<\/i>, menjadi blockchain pertama yang mendukungnya. Meskipun konsep smart contract<\/i> bukanlah hal baru karena sudah ada sejak tahun 1990-an.<\/p> Di blockchain publik, smart contract<\/i> memungkinkan transaksi kompleks dan menciptakan dunia keuangan terdesentralisasi (DeFi) serta berbagai aplikasi DeFi coin<\/a> lainnya. Sebagai perbandingan, Bitcoin mendukung pengiriman dan penerimaan, dengan fitur tambahan seperti inskripsi. Bitcoin dirancang sebagai uang terdesentralisasi.<\/p> Sebaliknya, Ethereum mendukung aplikasi terdesentralisasi (dApps) yang lengkap, mulai dari pertukaran terdesentralisasi hingga platform peminjaman dan dunia metaverse.<\/p> Di blockchain pribadi, smart contract<\/i> dapat mencakup kontrak yang spesifik untuk industri, yang dieksekusi saat kondisi tertentu terpenuhi.<\/p>
\nSekarang kita beralih ke pengertian teknologi blockchain. Apa itu blockchain? Dilansir dari CNBC<\/a> teknologi blockchain artinya sebuah teknologi yang digunakan sebagai sistem penyimpanan atau bank data secara digital yang terdistribusi (distributed ledger<\/i>) dan tidak dapat diubah.<\/p>\n\n
Bagaimana Cara Kerja Teknologi Blockchain?<\/b><\/h2>
\nSetelah mengetahui apa itu Blockchain, sekarang mari kita pelajari bagaimana cara blockchain. Pertama, mari kita pahami struktur umum teknologi blockchain.<\/p>\n
<\/p>1. Desentralisasi (<\/b>Decentralization<\/i><\/b>)<\/b><\/h3>
2. Data Tidak Dapat Diubah (<\/b>Immutability<\/i><\/b>)<\/b><\/h3>
\n
3. Transparansi Penyimpanan Digital (<\/b>Transparency Public Ledger<\/i><\/b>)<\/b><\/h3>
4. Perlindungan Informasi dengan Kriptografi (<\/b>Security<\/i><\/b>)<\/b><\/h3>
Saat Jimmy mengirim satu bitcoin ke Aldi, Jimmy menggunakan alamat dompet publiknya sebagai alamat pengirim dan alamat publik Aldi sebagai alamat penerima. Alamat-alamat ini berasal dari enkripsi kunci private masing-masing pengguna, menghasilkan rangkaian huruf dan angka yang tampak acak. Namun, hasil enkripsi tidak acak.<\/p>3 Jenis Elemen Utama Jaringan Teknologi Blockchain<\/b><\/h2>
\nDikutip dari CRMS Indonesia<\/a>, jaringan teknologi blockchain terdiri dari sekelompok komputer yang meng-host blockchain, memvalidasi data atau transaksi untuk dimasukkan ke dalam blockchain, dan dalam beberapa kasus, menjalankan smart contract<\/i> di jaringan. Kita akan membahas smart contract<\/i> lebih lanjut.<\/p>Jaringan Blockchain Publik<\/b><\/h3>
\n
\n
Jaringan Blockchain Pribadi<\/b><\/h3>
\n
Konsorsium Blockchain<\/b><\/h3>
\n
Apa Itu Protokol dan Platform Blockchain?<\/b><\/h2>
\nSekarang Anda tentu sudah mengetahui apa itu blockchain. Lantas, bagaimana dengan protokol dan platform blockchain itu sendiri? Protokol dan platform adalah dua komponen kunci dalam teknologi blockchain, tetapi sering kali tidak dipahami dengan jelas.<\/p>Aturan dan Prosedur Protokol Blockchain<\/b><\/h3>
\n
Ekosistem untuk Implementasi di Platform Blockchain<\/b><\/h3>
\n
\n
Apa yang Dimaksud dengan Smart Contract?<\/b><\/h2>
\nTeknologi blockchain menawarkan cara yang kuat untuk menyimpan data dan transaksi, tetapi smart contract<\/i> memungkinkan fungsi baru di luar pencatatan. Dilansir dari Binus University<\/a>, Smart contract<\/i> adalah kondisi program yang dibangun dengan bahasa pemrograman. Contohnya, jika suatu kondisi terpenuhi, maka lakukan aksi tertentu.<\/p>